Why Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On

  • Share
Wifi Summary Png
Wifi Summary Png

Spesifikasi teknis lengkap untuk Why Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On, termasuk kecepatan prosesor, ruang hard drive, memori, dan lainnya. Harga Why Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On terbaru 2021 kira-kira berapa ya? Temukan daftar harga Why Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On disini. Bandingkan dan dapatkan harga terbaik Why Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On sebelum belanja online. Periksa promo,review, spesifikasi, dan warna. Sebelum menilik daftar harga Why Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On terbaru, simak kabar terbaru sistem operasi beserta kelebihannya berikut ini.

Jika Mac tidak terhubung ke Internet melalui Wi-Fi - Apple Support
Jika Mac tidak terhubung ke Internet melalui Wi-Fi – Apple Support | Kenapa Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On

Why Status Wifi Apple Macbook Air Tidak Bisa On

Pada tanggal 1 Juni 2010, Steve Jobs dalam wawancaranya dengan Walt Mossberg dan Kara Swisher dari Wall Street journal mengungkapkan urusan yang dirasakan kontroversial untuk penyuka teknologi sampai sekarang: Post PC Era atau Era Pasca-PC.

“Saya mengupayakan memikirkan analogi yang bagus. Saat anda menjadi bangsa agraris, seluruh mobil ialah truk. Akan namun manusia lantas melangkah maju ke pusat-pusat kota, orang mulai memanfaatkan mobil. Berdasarkan keterangan dari saya, PC bakal menjadi laksana truk. Makin tidak banyak orang yang memerlukannya. Dan transformasi ini bakal mengganggu tidak sedikit orang… Karena PC sudah menolong kita sejauh ini. PC luar biasa, namun ini bakal berubah. Minat yang tertanam bakal berubah. Dan, menurut keterangan dari saya, anda akan mendekap perubahan tersebut. Apakah ini iPad? Siapa yang tahu? Apakah tahun depan atau lima tahun ke depan?.. Kita seperti merundingkan sebuah era pasca-PC, tapi saat ini mulai terjadi, maka ini tidak bakal nyaman.”

 

Pada ketika itu, Jobs tengah merasakan status Apple sebagai pencetus revolusi digital. Tanggal 9 Januari 2007, Apple dan Jobs sebagai figur utamanya memberitahukan sebuah perlengkapan yang disebutnya sebagai ‘perangkat three-in-one, suatu ponsel, iPod, dan internet communicator’. Penjualan iPhone barangkali belum meledak pada tahun itu, dunia masih dikuasai oleh Nokia dengan sekian banyak ponselnya yang inovatif – sedangkan BlackBerry sedang menggeliat dan merangkak mengarah ke puncak dunia dengan perlengkapan komunikasi canggihnya yang mempermudah orang berkirim email dan pesan instan. Akan namun jelas iPhone tidak bisa diabaikan. Perangkat ini begitu inovatif dan seolah menunjukkan untuk dunia suatu ‘cara baru’ dalam berkomunikasi. Penggunaan touchscreen pada sebuah perlengkapan komunikasi pun mungkin bukan yang kesatu, namun Steve Jobs mengindikasikan sebuah teknik yang mudah, yang tampak begitu simpel sehingga seseorang yang gaptek pun bisa dengan gampang melakukannya.

Rilis iPhone menjadikan  Chris DeSalvo, teknisi Google yang menonton langsung acara tersebut terpana. Google tengah menyiapkan suatu revolusi di dunia mobile dengan proyek yang mereka sebut Android. Dia langsung menelepon Andy Rubin yang saat tersebut menjabat direktur kesebelasan Android guna meminta pendapatnya mengenai iPhone. Rubin saat tersebut sedang sedang di Vegas, 600 mil dari tempat peluncuran iPhone. Tapi nyatanya dia pun menyaksikan presentasi Jobs itu dari layar televisi. Dengan suara serak, dia berbicara pada DeSalvo, “Chris, anda harus membongkar total dan mengawali ulang proyek kita.”

Memulai dengan tertatih-tatih, Google dan kesebelasan Android berupaya keras untuk menjangkau apa yang sudah diperlihatkan oleh iPhone. Sebuah perlengkapan seluler yang dapat melakukan tidak sedikit fungsi. Selain suatu telepon juga bermanfaat sebagai komunikator internet dan konsumsi media. Sementara tersebut Microsoft… Oke, tidak cukup relevan menyinggung Microsoft di sini sebab Steve Ballmer yang saat tersebut menonton presentasi Jobs malah menertawakan produk baru Apple tersebut. Microsoft sedang terlena oleh Windows Mobile yang mendapat posisi bagus di pasar, memang kecil bila dikomparasikan dengan Nokia, namun lumayan sebanding dengan BlackBerry yang berorientasi bisnis. “iPhone tidak barangkali akan menemukan pangsa pasar yang signifikan. Ini ialah barang ekuivalen USD 500 dengan subsidi” Ballmer tertawa, “… Membayar USD 500 untuk suatu logo? Berdasarkan keterangan dari saya tersebut usulan yang paling menantang untuk kebanyakan orang.”

Apple tidak berhenti hingga di situ saja. Pada tanggal 3 April 2010, Apple memberitahukan sebuah perlengkapan baru yang mempermudah orang mengonsumsi konten digital laksana ebook, video, dan tulisan internet – yakni iPad. Meskipun dikritik sebagai ‘iPhone dengan ukuran lebih besar’, iPad terbukti menemukan pasar baru yang signifikan. Di tahun yang sama, Android mulai merangkak dan menemukan pasar yang signifikan. Strategi menggratiskan Android OS sampai-sampai mendapat dukungan tidak sedikit OEM, berbuah menjamurnya perlengkapan dengan faedah telepon seluler dan komunikator internet (oya, pasti saja dengan layar sentuh) dengan harga tercapai di masyarakat. Perlahan namun pasti, eksistensi perangkat-perangkat ini mengolah gaya konsumsi masyarakat. Kalau dulu masyarakat mengonsumsi konten internet melewati PC dan laptop, sekarang ada penyelesaian yang lebih praktis, yaitu memakai perangkat seluler!

Saat diminta komentarnya mengenai Android, Steve Jobs langsung menggebrak meja dengan mata melotot, “Aku akan menguras napas terakhirku, andai perlu, dan aku akan menguras setiap sen dari 40 miliar dolar harta Apple di bank, untuk memperbaiki hal yang salah ini! Aku bakal menghancurkan Android, sebab Android ialah produk curian! Aku mau memulai perang nuklir guna hal ini!”

 

Setahun sesudah Steve Jobs meninggal sebab kanker pankreas, Tim Cook pulang menggaungkan masalah post-pc era ini dalam rilisan iPad tahun 2012. “Momentum di balik iPad sangat spektakuler dan mengejutkan seluruh orang,” ujar Tim Cook, kemudian dia menambahkan, “penjualan kami melebihi prediksi terliar sekali pun.”

Cook mengulas bahwa Apple sukses menjual 172 juta perlengkapan “pasca-PC” di tahun lalu, campuran antara iPod, iPhone, dan iPad. Cook mengaku bahwa dalam triwulan terakhir 2011, 85 persen penghasilan Apple datang dari perlengkapan itu.

Seakan belum lelah dengan jargon tersebut, Tim Cook mengulang glorifikasinya terhadap ‘era pasca-PC’ ini saat pemberitahuan iPad Pro pada tahun 2015. “Mengapa Anda mesti melakukan pembelian PC Media sekali Apple sangat energik dalam urusan ini. Tujuannya jelas: Mereka hendak sekali supaya perangkat mereka dinamakan sebagai ‘pengganti PC’. Tim Cook di sekian banyak kesempatan (dan iklan Apple) terus berupaya menyampaikan bahwa PC telah tidak lagi relevan sebab perangkat (milik Apple) dapat mengerjakan semua yang dilaksanakan sebuah PC.

Fokus marketing ini menjadikan Apple sendiri terkesan keadaan bingung dalam menanam Macbook yang sebetulnya adalah produk inti Apple. Mungkin Apple dapat membodohi sejumlah orang dengan memberitahukan bahwa “Mac bukan PC”, tapi pasti saja di kalangan terpelajar, ungkapan tersebut paling konyol dan kesudahannya berbenturan dengan promo ‘perangkat pasca-PC’ kepunyaan Apple sendiri. “Saya menyukai Mac” ujar Tim Cook seraya tersenyum malu-malu ketika perilisan Macbook 2016 – Kali ini tanpa menyebut soal ‘Post-PC Era’.

Michael Dell, empunya Dell Company, ketika ditanya mengenai ‘Post-PC era’ tersenyum kalem seraya menjawab, “Post-PC era ini spektakuler untuk PC. Saat post-PC era dimulai, melulu 180 juta dari PC saya yang terjual dalam setahun, dan sekarang, lebih dari 300 juta, jadi saya paling cinta post-PC era ini,”

 

Michael Dell barangkali setengah menyindir, tetapi poin yang dia tekankan (dan didukung statistik) paling tepat. Di antara gembar-gembor ‘ponsel menggantikan PC’, ‘tablet ialah pengganti laptop’, penjualan laptop dan PC sebetulnya tidak lesu. Peningkatannya stabil meskipun pelan – Dan meskipun andai dibandingkan, tingkat penjualan ponsel barangkali sudah melebihi penjualan laptop dan PC di semua dunia, tetapi tetap saja angka penjualan PC tidak menurun signifikan!

Industri gaming PC masih merupakan pesona utama ‘rutin’-nya orang melakukan pembelian PC. Bermain game di ponsel maupun iPad memang adalah pengalaman baru, akan namun konsol dan PC game tetap mempunyai massa tersendiri dan terdapat kecenderungan meningkat. Dalam laporannya, Intel bahkan memperkirakan hardware guna gaming bakal tumbuh sebesar 26% masing-masing tahun. Seorang peneliti mempercayai bahwa hardware gaming PC bakal segera menjangkau keuntungan USD 30 miliar pada tahun 2018 mendatang.

Di samping itu, tetap maraknya PC/laptop pun didukung oleh inovasi yang dilaksanakan oleh Microsoft. Ketika masyarakat sedang demam smartphone dan tablet, penjualan PC sempat mencatatkan penurunan sepanjang enam triwulan terus menerus menurut keterangan dari data dari Canalys, dalam masa itu, sebuah perlengkapan terus menanjak, sampai 13%! Yaitu perlengkapan yang dinamakan two-in-one atau hybrid. Tablet berbasis Windows yang bisa menjalankan faedah PC sarat dengan ekstra keyboard cover, atau dengan keyboard yang dapat dicungkil (detachable). Dengan segera OEM berpaling pada arus baru ini.

Microsoft sebetulnya sudah mengawali proyek ini semenjak tahun 2000-an. Ini adalah perangkat berbasis Windows XP yang dinamakan Tablet PC. Pada saat tersebut memang masih belum begitu laris sebab keterbatasan keterampilan perangkat, lagipula budaya masyarakat saat tersebut masih belum berpaling ke arah perlengkapan unik tersebut. Pada tahun 2012, Microsoft mengupayakan kembali dengan lini Surface. Perangkat ini memakai chip irit daya, layar sentuh yang lumayan lebar – sebagaimana tren tablet yang dibuka oleh iPad.

Butuh sejumlah tahun pengembangan untuk Microsoft mendapat profit untuk kelompok ini. Windows 8 sebetulnya dimaksudkan secara spesifik untuk perlengkapan ini. Namun pemakaiannya begitu tak populer guna PC dan laptop biasa, sampai-sampai akhirnya Microsoft mengejar ‘jalan tengah’ dengan Windows 10. Baru saat inilah perlengkapan hybrid berkembang pesat. OEM laksana Dell, HP, Lenovo, dan Acer mulai mereguk deviden besar dari penjualan perlengkapan setipe ini.

Meskipun masih menemukan profit yang menggiurkan, tetapi terlihat bahwa semenjak naiknya popularitas kategori hybrid, dasar-dasar pemasaran Apple mulai terguncang. Sejak 2013, penjualan iPad terus menurun, bahkan menjangkau 16% dari tahun ke tahun. Seorang blogger teknologi, Sammy the Walrus, mengungkapkan analisisnya yang menarik:

Apple sekarang mengalami kendala dalam penjualan iPad. Mengapa Anda melakukan pembelian iPad andai Anda bisa mempunyai iPhone dengan layar yang selisihnya tidak terlampau besar dengan iPad mini? Mengapa mesti melakukan pembelian iPad bila dapat membeli Macbook Air yang lebih powerful? Ruang antara ponsel dan PC kian kecil dikomparasikan tahun 2010 yang lalu, terutama ketika ponsel semakin powerful dan besar – Sementara tablet semakin mengecil.

Analisis Sammy ini merujuk pada perbuatan Apple yang ‘mengikuti tren’ phablet yang dipopulerkan Samsung. Ini ialah kata turunan dari Phone dan tablet – Yang menanjak popularitasnya saat Samsung merilis Galaxy Note – Sebuah perlengkapan yang tampak ‘raksasa’ pada masa tersebut (5,2 inchi) dikomparasikan dengan ukuran iPhone yang melulu 3,5 inchi. Galaxy Note menjadi pemicu ‘membesar’-nya ukuran smartphone, hingga di titik pada tahun 2017 ini, orang terbiasa menggenggam perlengkapan seperti Galaxy S8 atau LG G6 yang berdiagonal 6″ tetapi dengan rasio bersahabat dan gampang dipegang tangan. Tren perlengkapan yang kian besar menciptakan Tim Cook seolah ‘menghianati’ ucapan Steve Jobs yang menyinggung ukuran ideal suatu smartphone ialah 3,5 inchi (produk sangat sesuai dengan filosofi Jobs ini ialah Apple 4S yang tidak jarang diplesetkan sebagai Apple for Steve).

Pasca meninggalnya Steve, Apple memang tidak cukup punya kekuatan guna ‘memaksakan’ filosofinya – Salah satu urusan mengagumkan yang dapat dilaksanakan Steve Jobs. Apple sekarang terlihat lebih kompromistis terhadap pasar (sebagaimana memang karakter Tim Cook yang gigih menjaga stabilitas) – dan terkesan mencari-cari dalil untuk masing-masing produk baru yang diluncurkan. ‘Courage‘ (keberanian) yang dinamakan Tim Cook ketika merilis iPhone 7 dalam menghapus headphone jack mengindikasikan salah satu perbuatan konyol Apple dalam ‘mencari alasan’ – Karena satu tahun sesudahnya Apple melupakan kata ‘courage‘ itu dengan merilis Macbook 2016 yang masih memakai headphone jack (dan lucunya mesti memakai dongle supaya bisa terhubung dengan iPhone). Langkah Apple sekarang sangat dapat ditebak dengan menyaksikan tren pemasaran – Jika anda melihat urusan yang kemungkinan akan laris di pasaran, itulah ceruk yang kemungkinan dibidik Apple!

Apple memang masih sakti dalam hal penghasilan dan nilai. Perusahaan ini masih merasakan status sebagai unit usaha sangat berharga di dunia ketika ini. Namun jelas bahwa inovasi – bukanlah kata yang ditelusuri di Apple. Microsoft yang pada tahun 2017 dinahkodai oleh Satya Nadella tidak sedikit melakukan sekian banyak langkah berani, sekaligus memegang erat erat basis kekuatan mereka di corporate consumer. Sementara Apple masih rajin menggaungkan istilah post PC-era setiap kali merilis iPad dan iPhone, Tom Warren, jurnalis senior The Verge memprotes: “Tidak terdapat Era Pasca-PC! Mungkin ini waktunya anda berhenti menuliskan bahwa anda ada di era Pasca-PC. PC masih terdapat di sana dan masih belum bakal ke mana-mana dalam masa-masa dekat ini! Lagipula, smartphone, PC, dan tablet – Semuanya ialah personal computer (PC)”

Hal yang unik untuk ditonton juga tren pendekatan yang menarik dari dua raksasa hardware tersebut. Apple (dengan tetap menjaga istilah post PC era), kelihatan berupaya menjadikan iOS di iPhone dan iPad mendekati keterampilan desktop (Macbook) – Sementara Microsoft lebih berupaya membawa desktop PC ke ranah mobile dengan inovasi hybrid-nya, dan konon sesudah ini menyiapkan perlengkapan smartphone yang dapat mengerjakan pekerjaan PC secara penuh!

Mana yang bakal lebih diterima masyarakat pemakai teknologi? Ini unik untuk anda saksikan!

 

Referensi

Arthur, Charles. 2012. History of Smartphone Timeline. The Guardian.

Bajarin, Tim. 2014. Why Steve Jobs Went ‘Thermonuclear’ on Android, PCMag.

Boxer, Benjy. 2017. PC Gaming, A $ 32 billion Industry, Is Going to Change Dramatically Due To New Cloud Technology. Forbes.

Curtis, Sophie. 2015. Michael Dell: The Post-PC Era has been great for PC. The Telegraph

Gibbs, Samuel, 2016. Your Next Computer Should be Laptop Tablet Hybrid – Really. The Guardian.

Hilner, Jason, 2010. Steve Jobs Proclaims the Post-PC Era has Arrived. Tech Republic

Vogelstein, Fred. 2013. The Day Google Had to ‘Start Over’ Android.

Warren, Tom. 2015. There’s no such thing as Post-PC. The Verge.

 

SUBSCRIBE CHANNEL KEPOIN TEKNO

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno supaya tidak ketinggalan sekian banyak info unik dan berfungsi seputar teknologi, masing-masing hari.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *