Lampu Apple Di Macbook Pro 13

  • Share
0iO4pbIu133zwElKu Jpg
0iO4pbIu133zwElKu Jpg

Spesifikasi teknis lengkap untuk Lampu Apple Di Macbook Pro 13, termasuk kecepatan prosesor, ruang hard drive, memori, dan lainnya. Harga Lampu Apple Di Macbook Pro 13 terbaru 2021 kira-kira berapa ya? Temukan daftar harga Lampu Apple Di Macbook Pro 13 disini. Bandingkan dan dapatkan harga terbaik Lampu Apple Di Macbook Pro 13 sebelum belanja online. Periksa promo,review, spesifikasi, dan warna. Sebelum menilik daftar harga Lampu Apple Di Macbook Pro 13 terbaru, simak kabar terbaru sistem operasi beserta kelebihannya berikut ini.

I Miss The Lighted Apple Logo. Turn off the magic, replace it with
I Miss The Lighted Apple Logo. Turn off the magic, replace it with | Apple Lamp On Macbook Pro 13

Lampu Apple Di Macbook Pro 13

Disinilah momen-momen ajaib mulai terjadi….

Setelah berhasil dengan kolaborasi mereka dalam serial televisi Euphoria yang sukses meraih pujian luas dari tidak sedikit kritikus sekaligus memenangkan sebanyak penghargaan bergengsi di industri pertelevisian dunia, tergolong Outstanding Lead Actress in a Drama Series pada ajang The 72nd Primetime Emmy Awards, Zendaya bareng dengan sutradara sekaligus pengarang naskah Sam Levinson kembali bekerjasama dalam film Malcolm and Marie adalah film perdana yang ditulis, didanai, dan diproduksi oleh Hollywood sekitar masa pandemi COVID-19, Kemudian film ini digadang-gadangkan sebagai film yang masuk sejumlah nominasi di tidak sedikit ajang penghargaan tahun 2021 ini.

Sebagai suatu film yang berfokus sarat pada naik turunnya interaksi yang terbentuk antara dua karakter yang memenuhi keseluruhanlinimasa penceritaan, sang sutradara dapat menghadirkan Malcolm & Marie sebagai suatu presentasi yang terasa begitu intim melewati kualitas tatanan produksinya.

Pilihan guna menghadirkan film dalam balutan warna hitam dan putih melewati penataan sinematografi arahan Marcell Rev menyokong penuh atmosfer pengisahan tersebut, baik guna memberikan konsentrasi secara utuh pada dialog yang terjalin antara kedua karakter maupun guna membentuk cerminan yang lebih personal bakal kedua karakter. Banyak adegan dalam Malcolm & Marie diisi oleh lagu-lagu popular bernuansa jazz dan blues, mulai dari Down and Out in New York City milik James Brown, Get Rid of Him dari Dionne Warwick. Kebanyakan dari lagu-lagu itu mengumandangkan deretan lirik yang mencerminkan situasi dari tidak sedikit adegan dalam film ini. Namun, tidak sedikit momen terasa menjadi lebih powerful ketika Malcolm & Marie lebih memilih untuk tidak mempedulikan komposisi musik scoring produksi Labrinth yang lebih mengendalikan suasana.

Dari semi cerita, si sutradara sekaligus pengarang naskah Sam Levinson mengatur “pertarungan” ucapan-ucapan yang terjadi antara karakter Malcolm Elliott dan Marie Jones layaknya suatu pertandingan tinju dengan tiap karakter menghadirkan pukulan maupun tinjuan mereka melewati serangkaian teriakan demi teriakan. Cukup melelahkan. Mudah untuk menikmati bahwa Levinson menyusun dua karakter dalam jalan cerita Malcolm & Marie sebagai perwakilan akan sekian banyak pemikirannya sebagai seorang pembuat film, bagaimana reaksinya terhadap semua kritikus film, sampai tanggapannya pada kritik film yang tidak jarang kali bernuansa politis saat dihadapkan pada film-film yang didapatkan oleh kumpulan orang kulit berwarna meskipun urusan ini jelas terasa janggal saat mengingat bahwa Levinson ialah seorang pembuat film berkulit putih.

Lewat sambatan yang dikatakan olehkarakter Malcolm Elliott, Levinson hendak menyuarakan bahwa sinema bukan tentang mengucapkan sebuah pesan namun mengucapkan sentuhan emosi, bahwa sinema bukan mengenai menggambarkan fakta namun menghasilkan kesan nyata akan suatu situasi, serta bahwa tidak segala urusan harus diserahkan pemikiran yang jauh lebih mendalam. Berbagai pengakuan menohok yang jelas bisa memaksa masing-masing telinga yang mendengarnya guna menjadi lebih awas terhadap isu yang disampaikan.

MALCOLM & MARIE (L-R): ZENDAYA as MARIE, JOHN DAVID WASHINGTON as MALCOLM. DOMINIC MILLER/NETFLIX © 2021

Namun, jelas lumayan sulit guna menanggapi sekian banyak pemikiran Levinson secara serius saat ia menyalurkannya melewati teriakan demi teriakan yang datang dari seorang sosok sutradara yang memandang dirinya ialah sosok yang begitu berbakat, dapat memuntahkan segala referensi mengenai pembuat film ataupun film-film klasik, dan bukanlah seorang sosok karakter yang dapat dirasakan menyenangkan secara keseluruhan.

Pilihan dialog dan paparan dari Levinson lebih tidak jarang terasa pretensius dan datang dari kelompok perasaan getir daripada tampil sebagai presentasi yang hangat dan tajam sehingga dapat mengena secara mendalam. Lewat penggambaran itersebut kemudian menjebak penampilan Washington sampai-sampai terasa begitu berlebihan dalam penampilannya. Kelemahan ini masih diperparah dengan plot kisah yang seolah-olah muncul sebagai repetisi tanpa pernah bisa berkembang secara lebih utuh.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *